Rabu, 14 Oktober 2015

Pelajaran Ilmu Sharaf dari Kitab al-Kailaniy

Pelajaran Ilmu Sharaf dari Kitab al-Kailaniy

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saya memulai dengan menyebut:

Bismillaahirrahmaanirraahiim.

Kitab Syarah Kailani dikarang oleh Abul Hasan Ali bin Hisyam al-Kailany as-Syafi’iy, merupakan syarah/keterangan dari Kitab Matan Tashrif al-‘Izziy yang dikarang oleh ‘Izzuddin Abul Mu’ali ‘Abdul Wahab bin Ibrahim al-Junjaniy. Semoga beliau berdua dilapangkan disisiNya. Amien.

Dalam kitab arab gundul tersebut, kita dapat membedakan mana yang syarah Kailaniy dan mana yang Matannya, yaitu jika ditulis dalam kurung itulah Matannya, sedangkan tulisan yang di luar kurung itulah Syarahnya.

Kitab ini, tidak asing di telinga kita para pencinta gramatika arab di Indonesia. Kitab ini sering menjadi rujukan dasar untuk mempelajari Ilmu Sharaf, baik dilembaga-lembaga pendidikan, lebih-lebih di pesantren, seorang kiyai/ustadz menterjemahkan dengan suara yang nyaring dan santri-santri menulisnya dengan pena yang super lancip agar bisa menulis di sela-sela tulisan arab gundul yang jaraknya memang sempit. Biasanya yang diberi makna adalah Hamisnya/matannya, dan kiyai/ustadz mereferensikan syarahnya sebagai keterangan.

Begitupun dalam thread ini. Saya cukup menulis arab dari matannya berikut terjemahannya, dan sebagai keterangan saya ambil dari syarahnya. Amma ba’du.

=========================================

DEFINISI ILMU SHARAF

اِعْلَمْ اَََنَّ التَّصْرِيْفَ فِي اللُّغَةِ التَّغْيِيْرُ وَفِي الصَّنَاعَةِ تَحْوِيْلُ اْلأَصْلِ الْوَاحِدِ إِلَى أَمْثِلَةٍ مُخْتَلِفَةٍ لِمَعَانٍ مَقْصُوْدَةٍ لاَ تَحْصُلُ اِلاَّ بِهَا
Ketahuilah, bahwa yg dinamakan Tashrif menurut bahasa: Perubahan. Dan menurut Istilah: mengubah asal bentuk kalimat yang satu kepada model-model bentuk yang berbeda-beda, untuk menghasilkan makna-makna yang diharapkan/yang dimaksud/ yang dituju, yang tidak akan berhasil melainkan dengan cara itu (model-model bentuk tsb).: Asal/akar dari kalimat adalah Masdar menurut ulama Bashrah, ini yang mu’tamad. sedangkan menurut ulama Kufah akar kalimat adalah Fi’il Madhi. Dari asal bentuk kalimat Masdar dirubah kepada bentuk yang lain menjadi: Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’, Fi’il Amar, Fi’il Nahi, Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Isim Zaman, Isim Makan, Isim Alat, Isim Murrah, Isim Hai’ah, Isim Nau’, Isim Tafdhil, Isim Shighat Mubalaghah dsb. Perubahan ke contoh-contoh bentuk tsb. Tujuannya untuk menghasilkan makna yang diharap. Tidak akan berhasil mencapai makna itu, melainkan dengan perubahan-perubahan tsb.: Asal kalimat adalah Masdar “ad-dharbu” = pukulan. Kemudian dirubah menjadi “dharaba” =telah memukul. “yadhribu” =akan memukul. “idhrib” =pukullah! Dan lain-lain. Nah, contoh bentuk2 seperti inilah yang dimaksud untuk menghasilkan makna yang dituju. Begitulah pembahasan TASHRIF menurut bahasa dan Istilah.
Penjelasan
Contoh
الضَّرْبُ ضَرَبَ يَضْرِبُ اِضْرِبْ

NUN TAUKID



 Ilmu Nahu _Nun Taukid


 ILMU NAHU _NUN TAUKID

Diperbolehkan mentaukidi fi’il amar secara mutlak. Dan fi’il madli tidak boleh ditaukid secara mutlak. Adapun fi’il mudlari’, maka tidak boleh mentaukidinya kecuali ketika fi’il tersebut didahului perabot amar (seperti, لَيَقُوْمَنَّ), atau nahi (seperti, لاَ تَقُوْمَنَّ), atau istifham (seperti, هَلْ تَقُوْمَنَّ), atau didahului (اِنْ) syarthiyyah yang di-idghamkan ke- (مَا) zaidah (seperti, فَاِمَّا تَرَيِنَّ), atau fi’il tersebut menjadi jawabnya qasam (sumpah), (seperti تَا اللهِ لَأَكِيْدَنَّ اَصْنَامَكُمْ).[1]
 
a. Kewajiban Mentaukidi Fi’il Mudlari’
Diwajibkan mentaukid fi’il mudlari’ dengan nun taukid ketika fi’il tersebut mutsbat dan mustaqbal, jatuh menjadi jawabnya qasam yang tidak dipisah dengan lam jawabnya oleh sesuatu,[2] seperti (تَاللهِ لأَكِيْدَنَّ اَصْناَمَكُمْ). Mentaukidi fi’il mudlari’ dengan nun dan memberi lam pada jawab dalam keadaan seperti itu adalah suatu kewajiban yang tidak boleh berpindah darinya. 

b. Boleh Mentaukidi Fi’il Mudlari’
Fi’il mudlari’ boleh ditaukid di empat keadaan, yaitu:[3]
1) Fi’il mudlari’ jatuh setelah perabot thalab, yaitu lam amar, (لاَ) nahi, perabot istifham, tamanni, tarajji, ‘aradl dan tahdlidl, seperti (لَأَجْتَهِدَنَّ), (لاَ تَكْسُلَنَّ), (هَلْ تَفْعَلَنَّ الْخَيْرَ), (لَيْتَكَ تَجِدَنَّ), (لَعَلَّكَ تَفُوزَنَّ), (أَلاَ تَزُورَنَّ الْمَدَارِسَ الْوَطَنِيَّةَ) dan (هَلاَّ يَرْعَوِنَّ الْغاَوِي عَنْ غَيِّهِ). 

2) Fi’il mudlari’ menjadi syarat yang jatuh setelah perabot syarat yang dibarengi dengan (ماَ) zaidah.Jika perabot yang digunakan adalah (إِنْ), maka men-taukidinya dengan nun adalah dekat dengan wajib, hingga ada sebagian ulama’ mengatakan wajib, seperti (فَإِماَّ يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطاَنِ نَزغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ). Dan jika perabot yang digunakan bukan (إِنْ),maka mentaukidinya adalah qalil, seperti (حَيْثُماَ تَكُونَنَّ آتِكَ مَتَى تُسَافِرَنَّ اُسَافِرْ). 
 
3) Fi’il mudlari’ dinafikan dengan (لاَ) dengan syarat dia menjadi jawabnya qasam, seperti (وَ اتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً). Dan qalil terjadinya jika fi’il mudlari’ dinafikan dengan (لَمْ) lalu ditaukidi dengan nun, seperti syair,
يَحْسَبُهُ الْجاَهِلُ ماَ لَمْ يَعْلَماَ * شَيْخاً عَلَى كُرْسِيِّهِ مُعَمَّماَ 

4) Fi’il mudlari’ jatuh setelah (ماَ) zaidah yang tidak di-dahului perabot syarat, seperti (بِعَيْنٍ ماَ اَرَيَنَّكَ). 

c. Dilarang Mentaukidi Fi’il Mudlari’
Tidak diperbolehkan untuk mentaukidi fi’il mudlari’ dengan nun di empat keadaan, yaitu:[4]
1) Ketika fi’il mudlari’ tidak didahului perabot yang memperbolehkannya untuk ditaukidi, seperti qasam, perabot thalab, nafi, jaza’ dan (ماَ) zaidah

2) Fi’il mudlari’ dinafikan dan jatuh setelah jawabnya qasam, seperti (وَ اللهِ لاَ اَنْقُضُ عَهْدَ اُمَّتِي). Tidak ada bedanya jika huruf nafi itu disebutkan, seperti dalam contoh, atau dikira-kirakan, seperti (تَاللهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ) yang artinya (لاَ تَفْتَأُ). 

3) Fi’il mudlari’ itu untuk zaman haal, seperti (وَ اللهِ لَتَذْهَبُ الْآنَ). 

4) Fi’il mudlari’ dipisah dari lam jawab qasam, seperti (وَ لَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى). 

d. Hukum Nun Dan Fi’il Yang Ditaukidi Dengannya[5]
1) Nun taukid khafifah tidak boleh jatuh setelah dlamir tatsniyyah, sehingga tidak boleh diucapkan (وَ اللهِ لَتَذْهَباَنِنْ), atau setelah nun niswah, sehingga tidak boleh diucap-kan (لاَ تَذْهَبْنَنْ).
Dan setelah waw jama’ dan ya’ mukhathabah, maka nun taukid khafifah bisa jatuh setelahnya, seperti (لاَ تَذْهَبُنَّ وَ اذْهُبُنَّ وَ لاَ تَذْهِبِنَّ وَ اذْهَبِنَّ). 

2) Ketika nun taukid tsaqilah jatuh setelah dlamir tatsniyyah, maka alif kita tetapkan dan nun taukid tsaqilah dikasrah, karena untuk menyerupakan nun itu dengan nun tatsniyyah dalam isim, seperti (اُكْتُباَنِّ) dan (لِيَكْتُباَنِّ).
Jika fi’il mudlari’nya dirafa’, maka nun alamat rafa’ juga dibuang supaya tiga nun tidak berulang dalam satu kalimah, seperti (تَكْتُباَنِّ) yang asalnya adalah (تَكْتُباَنِنَّ). 

3) Ketika nun taukid jatuh setelah waw jama’ yang didlammah huruf sebelumnya, atau ya’ mukhathabah yang dikasrah huruf sebelumnya, maka waw jama’ atau ya’ mukhathabah dibuang, karena khawatir dari berkumpulnya dua huruf mati, dan harakatnya huruf sebelum waw dan ya’ kita tetapkan seperti keadaan-nya semula, seperti (اُكْتُبُنَّ), (اكْتُبِنَّ), (لِيَكْتُبُنَّ), (ادْعُنَّ), (ادْعِنَّ), (لِيَدْعُنَّ), (ارْمُنَّ), (ارْمِنَّ), dan (لِيَرْمُنَّ) yang asalnya adalah (اُكْتُبُونَّ), (اكْتُبِيْنَّ), (لِيَكْتُبُونَّ), (اُدْعُونَّ), (اَدْعِينَّ), (لِيَدْعُونَّ), (ارْمُونَّ), (ارْمِيْنَّ), dan (لِيَرْمُونَّ).
Jika fi’il mudlari’nya marfu’, maka nun alamat rafa’ pertama kali yang dibuang lalu waw dan ya’ dibuang karena berkumpulnya dua huruf mati setelah membuang nun, seperti (هَلْ تَذْهَبُنَّ) dan (هَلْ تَذْهَبِنَّ) yang asalnya adalah (تَذْهَبُونَنَّ) dan (تَذْهَبِيْنَنَّ). 

4) Jika huruf sebelum waw jama’ dan ya’ mukhathabah yang bertemu dengan nun adalah difathah, maka waw dan ya’ kita tetapkan, seperti, (هَلْ تَخْشَوُنَّ؟), (اِخْشَوُنَّ؟), (هَلْ تَرْضَيِنَّ؟), dan (اِرْضِيِنَّ؟).
Tetapi waw jama’ di dlammah dan ya’ mukhathabah di kasrah, dan huruf sebelum keduanya ditetapkan seperti keadaannya semula, yaitu difathah, seperti yang telah kalian lihat. Perlu diketahui bahwa nun yang ditasydid adalah dua huruf yang huruf pertama adalah mati. Karena huruf yang ditasydid adalah dua huruf dalam pelafalan meskipun satu dalam penulisan. 

5) Ketika nun taukid masuk pada huruf akhirnya fi’il yang diisnadkan kepada fa’il dlamir mustatir atau isim dzahir, maka huruf terakhir fi’il difathah, seperti (هَلْ تَكْتُبَنّ؟), (لِيَكْتُبَنَّ زُهَيْرٌ) dan (اُكْتُبَنَّ). Dan jika berupa fi’il yang mu’tal akhir dengan alif, maka alif kita ganti ya’, seperti (هَلْ تَسْعَيِنَّ؟) dan (اِسْعَيِنَّ). 

6) Ketika kita mentaukidi fi’il amar yang dimabnikan dengan membuang huruf akhirnya, atau fi’il mudlari’ yang dijazemkan dengan membuang huruf akhirnya, maka kita kembalikan huruf terakhirnya –jika huruf tersebut adalah ya’ atau waw- dengan dimabnikan fath.
Sehingga, kita ucapkan pada (اُدْعُ), (لاَ تَدْعُ), (اِمْشِ) dan (لاَ تَمْشِ), dengan (اُدْعُوَنَّ), (لاَ تَدْعُوَنَّ), (إِمْشِيَنَّ) dan (لاَ تَمْشِيَنَّ). Jika yang dibuang adalah alif, maka alif itu kita ganti ya’, sehingga kita ucapkan pada (إِخْشَ) dan (لِيَخْشَ) dengan (إِخْشَيِنَّ) dan (لِيَخْشَيِنَّ). 

7) Ketika nun niswah menyandingi nun taukid tsaqilah, maka diwajibkan untuk memisah keduanya dengan alif karena tidak menyukai berkumpulnya beberapa nun, seperti (يَكْتُبْناَنِّ) dan (اكْتُبْناَنِّ).Ketika itu, maka nun taukid wajib dikasrah, seperti yang telah kalian lihat, karena untuk menyerupakan dengan nun yang jatuh setelah alif tatsniyyah. Adapun nun taukid khafifah, maka tidak diperbolehkan jatuh setelah nun niswah, seperti yang telah dijelaskan didepan. 

8) Nun tukid khafifah ketika disandingi huruf mati, maka nun itu dibuang karena untuk menyelamatkan dari bertemunya dua huruf mati, seperti (اَكْرِمَ الْكَرِيْمَ) yang asalnya adalah (اَكْرِمَنْ). Dan diperbolehkan untuk meng-gantinya dengan alif ketika waqaf, seperti (اُكْتُباَ) yaitu pewaqafan dari (اُكْتُبَنْ).

[1] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz I hlm. 88
[2] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz I hlm. 89
[3] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz I hlm. 89-91
[4] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz I hlm. 92
[5] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz I hlm. 93-96
- See more at: http://hakamabbas.blogspot.co.id/2014/09/nun-taukid.html#sthash.JLAnnyvg.dpuf








Senin, 14 Juli 2014

Bab ‘Adad (Bilangan/Hitungan)

–·•Ο•·–

العدد

Bab ‘Adad (Bilangan/Hitungan)

ثَلَاثَةً بِالتَّاءِ قُلْ لِلعشَرَهْ ¤ فِي عَدِّ مَا آحَادُهُ مُذَكّرَهْ

Ucapkan angka Tsalatsatun (tiga) sampai ‘Asyarotun (sepuluh) dg menggunakan Ta’ didalam menghitung sesuatu yg mufrodnya Mudzakkar. 

في الضِّدِّ جَرِّدْ وَالْمُمَيِّزَ اجْرُرِ ¤ جَمْعاً بِلَفْظِ قِلَّةٍ فِي الأكْثَرِ

Sebaliknya buanglah Ta’nya (pada mufrod ma’dud muannats). Jarkanlah! Lafazh Mumayyiz/Ma’dud yg jamak qillah pada kebanyakannya (daripada yg jamak katsrohnya). 

وَمِائَةً وَالأَلْفَ لِلْفَرْدِ أضِفْ ¤ وَمِائَةٌ بِالجَمْعِ نَزْراً قَدْ رُدِفْ

Terhadap angka Mi’atun (seratus) dan Alfun (seribu) mudhafkan pada Isim Mufrod. Dan angka Mi’atun (seratus) jarang diikuti oleh Jamak (jarang dimudhafkan pada jamak). 
–·•Ο•·–
Sebelumnya perlu diketahui, bahwa Isim Adad (kata bilangan/hitungan) menurut istilah Ulama’ Nahwu terbagi menjadi 4 bagian.
1. “Adad Mufrad”
Adalah Isim Adad yg kosong dari Tarkib dan ‘Athaf. Yaitu bilangan dari Wahidun (satu) sampai ‘Asyarotun (sepuluh), Bidh’un (sejumlah antara 3-9), Mi’atun (seratus), dan Alfun (seribu).
Sebagian Nuhat menyebutnya “Adad Mudhaf” karena dapat dimudhafkan pada Tamyiznya/Ma’dudnya, yang selain wahidun (satu) dan Itsnani (dua).
2. “Adad Murakkab”
Adalah Isim Adad susunan dua bilangan menjadi satu dengan susunan Tarkib Mazji. Yaitu bilangan dari Ahada ‘Asyaro (sebelas) sampai Tis’ata ‘Asyaro (Sembilan belas).
3. “Adad ‘Aqd”
Adalah Isim Adad puluhan/kelipatan sepuluh. Yaitu bilangan dari ‘Isyruuna (dua puluh) sampai Tis’uuna (sembilan puluh).
Sebagian Nuhat menyebutnya “Adad Mufrod” karena tidak Mudhaf juga tidak Murokkab.
4. “Adad Ma’thuf”
Adalah Isim Adad susunan Athaf. Yaitu bilangan yg ada diantara dua Adad Aqd (angka yg ada diantara 20>…<30, 30>…<40, dst.). Contoh Wahidun wa ‘Isyruuna (dua puluh satu), Itsnaani wa Isyruuna (dua puluh dua), dst. Hingga Tis’atun wa Tis’uuna (sebilan puluh Sembilan).
Insyaallah 4 bagian diatas akan diterangkan menurut penerangan Kitab Alfiyah pada tiga bahasan sebagai berikut:
  • Hukum Mudzakkar&Muannatsnya
  • Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya
  • Hukum I’robnya
I. ‘ADAD MUFROD
A. WAHIDUN (SATU) dan ITSNAANI (DUA)
I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : harus mencocoki pada Ma’dudnya.
Contoh:

في القرية مسجد واحد

FIL-QORYATI MASJIDUN WAAHIDUN = Di desa itu hanya ada satu masjid.

في القرية مدرسة واحدة

FIL-QORYATI MADROSATUN WAAHIDATUN = Di desa itu hanya ada satu Madrasah.

اشتريت كتابين اثنين

ISYTAROITU KITAABAINI ITSNAINI = Aku telah membeli dua kitab.

اشتريت كراستين اثنتين

ISYTAROINI RURROOSATAINI ITSNAINI = Aku telah membeli dua buku tulis.
II. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya : harus disebutkan setelah ma’dudnya seperti contoh-contoh diatas. Dan tidak boleh menyebutkan ma’dud sebelumnya, maka tidak boleh mengatakan :

في القرية واحدُ مسجدٍ

FIL-QORYATI WAAHIDU MASJIDIN.

اشتريت اثني كتابين

ISYTAROITU ITSNAIY KITAABAINI.
Karena cukup penyebutan ma’dud secara langsung sudah mencukupi jumlah yg dimaksud (mufrad/mutsanna = satu/dua). Maka tidak perlu untuk menyebut ‘adad pada sebelum ma’dudnya.
III. Hukum I’robnya : disesuaikan menurut posisinya pada susunan kalam. Sedangkan I’rob ma’dudnya mengikuti irob ‘adad sebelumnya yakni sebagai Tabi’ Taukid.
B. TSALATSATUN (TIGA) sampai ‘ASYAROTUN (SEPULUH) dan BIDH’UN/BIDH’ATUN (sejumlah 3-9)
I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : kebalikan dari ma’dudnya, yakni dimudzakkarkan apabila ma’dudnya mu’annats, dan dimuannatskan apabila ma’dudnya mudzakkar,.
Contoh :

عندي سبعةُ رجال

INDIY SAB’ATU RIJAALIN = disisiku tujuh pria.

عندي ثلاثُ نسوةٍ

INDIY TSALAATSU NISWATIN = disisiku tiga wanita.

صافحت بضعة رجال

SHOOFAHTU BIDH’ATA RIJAALIN = aku berjabat tangan dengan beberapa pria.

نصحت بضع نساء

NASHOHTU BIDH’A NISAA’IN = aku menasehati beberapa wanita.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا

SAKHKHOROHAA ‘ALAIHIM SAB’A LAYAALIN WA TSAMAANIYATA AYYAAMIN HUSUUMAN = yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus (QS Al-Haaqqah : 7)
>> lafazh LAYAALIN = Ma’dud mu’annats karena mufrodnya LAILATIN, maka menggunakan ‘adad mudzakkar SAB’A.
>> lafazh AYYAAMIN = Ma’dud mudzakkar karena mufrodnya YAUMIN, maka menggunakan ‘adad muannats TSAMAANIYATA.

فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ

FA SYAHAADATU AHADIHIM ARBA’U SYAHAADAATIN = maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah (QS. An-Nuur : 6)

ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ

TSUMMA LAM YA’TUU BI ARBA’ATI SYUHADAA’A = dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi (QS. An-Nuur : 4)
>> lafazh SYAHADAATIN = ma’dud mu’annats karena mufrodnya SAHAADATIN, maka menggunakan ‘adad mudzakkar ARBA’U.
>> lafazh SYUHADAA’A = ma’dud mudzakkar karena mufrodnya SYAAHIDUN/SYAHIIDUN, maka menggunakan ‘adad mu’annats ARBA’ATI.
Dengan demikian, yang dipandang mudzakkar dan muannatsnya dalam hal ini bukan pada bentuk lafazh jamaknya, akan tetapi yg dipandang adalah bentuk isim mufrodnya. contohnya lagi :

جاء خمسة فتية

JAA’A KHOMSATU FITYATIN = lima orang pemuda telah datang.
>> Lafazh “FITYATIN” mempunyai bentuk mufrod “FATAA” adalah ma’dud mudzakkar, makanya menggunakan ‘adad mu’annats (KHOMSATU). Tidaklah memandang bentuk lafazh jamaknya yg mu’annats (FITYATIN).
Apabila terdapat dua ma’dud dalam satu ‘adad. Yang satu mudzakkar dan yg lain muannats, maka yg dipandang muannats dan mudzakkarnya adalah pada ma’dud yg disebut pertama kali.
Contoh:

حضر سبعة رجال ونساء

HADHORO SAB’ATU RIJAALIN WA NISAA’IN = tujuh orang pria dan wanita telah hadir.

وأقبل خمس نساءٍ ورجال

AQBALA KHOMSATU NISAA’IN WA RIJAALIN = lima orang wanita dan pria telah menghadap.
Akan berbeda nanti hukum mudzakkar dan mu’annatsnya apabila adad-adad mufrad tersebut diatas dibentuk menjadi ‘Adad Murokkab atau ‘Adad Ma’thuf yg insyaAllah akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya.
II. Hukum I’robnya : disesuaikan menurut posisinya pada susunan kalam.
III. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya :
A. Dijadikan mudhaf ilaih dg susunan idhofah, yakni memudhofkan adad kepada ma’dud yg dibutuhkan sebagai tamyiznya, seperti pada contoh-contoh diatas. Dan terkadang tidak dimudhofkan kepada tamyiznya tapi cukup dimudhofkan langsung kepada siempunya tamyiz/ma’dud. Kerena dalam hal ini si pembicara sudah memaklumi akan jenis/bentuk ma’dud. Sehingga tidak perlu ditamyizi. Semisal contoh:

هذه خمسةُ محمد

HADZIHI KHOMSATU MUHAMMADIN = ini adalah limanya Zaid (yakni, ini lima barang punya zaid)

خذ سبعتك

KHUDZ! SAB’ATAKA = ambillah! Tujuhmu. (yakni, ambilah tujuh barangmu)
B. Ma’dudnya berbentuk jamak, yg sering digunakan adalah dalam bentuk Jamak Taksir Qillah. Dan diketahui juga bahwa maksud jamak dalam ma’dud di sini tidak harus berupa bentuk jamak dalam istilah, tapi juga bisa masuk kepada semua jenis isim yg menunjukkan jamak, seperti Isim Jamak dan Isim Jinsi Jam’i, yg dalam penggunaannya banyak menyertakan huruf jar MIN. contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ

FA KHUDZ! ARBA’ATAN MINATH-THOIRI = ambillah empat ekor burung (QS. Al-Baqoroh : 260)

جاء ثلاثة من القوم

JAA’A TSALAATSATUN MINAL QOUMI = telah datang tiga kaum.

في المزرعة سبع من النخل وتسع من الشجر

FIL MAZRO’ATI SAB’UN MINAN-NAKHLI WA TIS’UN MINAS-SYAJARI = di ladang itu ada tujuh pohon kurma dan Sembilan pepohonan.
Terkadang juga langsung disusun secara idhofah. Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ

WA KAANA FIL-MADIINATI TIS’ATU ROHTHIN = Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki (QS. An-naml:48).
Yang berbeda dengan tiga hal diatas dalam hukum penggunaan ma’dudnya yakni : 1. Jamak. 2. Jamak Taksir. 3. Jamak Taksir Qillah. Adalah :
1. Menggunakan bentuk isim mufrod, apabila adad-adad tersebut diatas bertamyiz pada lafazh MI’ATUN. Contoh :

في المعهد ثلثمائة طالب وأربعمائة مقعد

FIL-MA’HADI TSALATSUMI’ATI THOOLIBIN WA ARBA’UMI’ATI MAQ’ADIN = di lembaga itu ada 300 siswa dan 400 bangku.
2. Menggunakan bentuk jamak shohih, apabila tidak terdapat dalam bentuk jamak taksirnya. Contoh:

خمس صلوات

KHOMSU SHOLAWAATIN = lima sholat.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

ALLAHUL-LADZII KHOLAQO SAB’A SAMAAWAATIN WA MINAL-ARDHI MITSLAHUNNA = Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi (QS. Ath-Tholaaq : 12)
>> Lafazh “SAMAWAATIN” = menggunakan jamak shohih (jamak muannats salim) karena tidak mempunyai bentuk jamak lain selain itu.

ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَّكُمْ

TSALAATU ‘AUROOTIN = tiga ‘aurat bagi kamu (QS. An-Nur : 58)
>> lafazh “‘AUROOTIN” = jamak shohih sebab juga tidak ada dalam bentuk jamak taksirnya.
Demikian juga menggunakan jamak shohih, apabila bentuk jamak taksirnya jarang digunakan. Semisal contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

فِي تِسْعِ آيَاتٍ

FII TIS’I AAYAATIN = termasuk sembilan buah mukjizat (QS. An-Naml : 12)
>> lafazh “AAYAATIN” = jamak shohih dari “AAYATIN” ditemukan dari bangsa arab menggunakan jamak taksirnya yaitu AAYUN tapi tidak banyak digunakan (lihat Al-Mishbahul Munir hal. 23).
Demikian juga menggunakan bentuk jamak shohih apabila digunakan bersamaan dengan jamak yg tidak ada bentuk jamak taksirnya, seperti contoh:

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ

YUUSUFU AYYUHASH-SHIDDIIQU AFTINAA FII SAB’I BAQOROOTIN SIMAANIN YA’KULUHUNNA SAB’UN ‘IJAAFUN WA SAB’I SUNBULAATIN KHUDHRIN WA UKHORU YAABISAATIN = (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering (QS. Yusuf : 46)
>> lafazh SAB’I “SUNBULAATIN” = menggunakan jamak shohih karena berdampingan dengan lafazh sebelumnya yaitu SAB’I “BAQOROOTIN” yg tidak diketahui bentuk jamak taksirnya.
Sedangkan apabila tidak berdampingan dengan jamak shohih yg tidak ada bentuk jamak taksirnya, maka menggunakan bentuk jamak taksirnya yaitu “SANAABILA”, contoh dalam Ayat :

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

MATSALUL-LADZIINA YANFIQUUNA AMWAALAHUM FII SABIILILLAAHI KAMATSALI HUBBATIN ANBATAT SAB’A SANAABILA FII KULLI SUNBULATIN MA’ATU HABBAH. = Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. (QS. Al-Baqoro : 261).
3. Tetap menggunakan bentuk Jamak Taksir Katsroh sekalipun ada dalam bentuk Jamak Taksi Qillahnya, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

WAL-MUTHOLLAQOOTU YATAROBBASHNA BI ANFUSIHINNA TSALAATSATA QURUU’IN = Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (QS. Al-Baqoroh : 228)
>> ‘Adad TSALAATSATA dimudhofkan kepada ma’dudnya lafazh “QURUU’IN” yg berupa Jamak Taksir Katsroh, beserta ia mempunyai bentuk Jamak Taksir Qillah yaitu “AQROO’IN”.
C. MI’ATUN (SERATUS) dan ALFUN (SERIBU)
I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : Tetap dalam bentuknya baik ma’dudnya Mudzakkar atau Mu’annats.
II. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya : Pada umumnya harus berupa Isim Mufrod yg dijarkan menjadi mudhaf ilaih.
Contoh :

قلَّ من يعيش مائة سنةٍ

QOLLA MA YA’IISYU MI’ATA SANATIN = Jarang orang yg hidup seratus tahun.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

AZZAANIYATU WAZ-ZAANIY FAJLIDUU KULLA WAAHIDIN MINHUMAA M’ATA JALDATIN = Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (QS. An Nuur : 2)

يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ

YAWADDU AHADUHUM LAW YU’AMMARU ALFA SANATIN = Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun (QS. Al-Baqarah : 96)
Terkadang menggunakan ma’dud/tamyiz bentuk jamak majrur dari ‘adad MI’ATUN, contoh dalam Ayat AL-Qur’an :

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

WA LABITSUU FIY KAHFIHIM TSALAATSA MI’ATIN SINIINA WAZDAADUU TIS’AN = Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. Al-Kahfi 25).
>> karena dalam ayat ini oleh bacaan salah satu qiro’ah sab’ah (Hamzah dan Al-Kasa’iy) memudhofkan lafazh MI’ATIN pada lafazh SINIINA menjadi “MI’ATI SINIINA”.